Syifa Dan Ibramovich 4

17 12 2007

“ ….melakukan bom bunuh diri di Jerussalem, tepat beberapa meter dari rumahmu. Seluruh kelurgamu meninggal ditempat, kecuali Shelma. Dia sempat dibawa kerumah sakit, namun meninggal diperjalanan….”

“ Tuhan……”

Saat itu aku tak dapat mendengar lanjutan kata-kata yang diucapkan oleh Kapten Benyamin Tak ada lagi air mata yang dapat kubendung, tubuhku serasa lunglai. Entahlah tak ada yang dapat kugambarkan dengan kata-kata, hanya hatiku yang dalam sekejap serasa terbang bersama ucapan Kapten Benyamin. Bayangan wajah Shelma yang lembut kembali berkelebatan bersama kenangan-kenangan terindah kami. Tuhan………………………..

selengkapnya





Syifa Dan Ibramovich 3

16 12 2007

“ Siap Kapten “ setelah Alex keluar, Kapten Benyamin duduk dihadapanku

“ Ibra, bukankah keluargamu tinggal Jerussalem ? “ tanyanya kemudian.

“ Benar Sir, aku punya seorang adik yang tinggal bersama pamanku disana “ jawabku. Sesaat aku terbayang wajah Shelma yang begitu polos dan bergelayutan dilenganku setiap kali aku pulang. Tiba-tiba dadaku terasa sesak mengingat Shelma, seperti ada sesuatu yang menghimpit, apalagi mengingat mimpiku tadi malam. Dia terlihat cantik dengan gaun putihnya dan mengatakan bahwa dia akan menjadi pendamping pengantinku. Oh….adikku aku sangat merindukanmu. Selengkapnya





Syifa Dan Ibramovich 2

8 12 2007

“ Kamu terlalu berharga untuk dikorbankan sayang, percayalah semua mimpimu akan terwujud. Kamu akan menjadi pendamping pengantin kakak, tidak hanya itu, kamu juga akan menjadi pengantin dari seorang ksatria tampan” jawabku sambil menggodanya. Tak seperti biasa, saat itu dia hanya tersenyum dan berjalan meninggalkanku.

selengkapnya





Syifa Dan Ibramovich 1

8 12 2007

“ Kapan perang ini akan selesai Kak ? “ Tanya Shelma sambil merapikan buku-buku di rak tanpa menolah ke arahku.

“ Kenapa ? Kamu takut ? Tenanglah sayang, bangsa kita akan keluar sebagai pemenangnya” ucapku seraya menatapnya. Shelma adalah adikku satu-satunya, sekaligus gadis yang paling istimewa bagiku. Dia sangat berbeda dengan gadis-gadis remaja seusianya, bahkan sangat berbeda dengan kebanyakan orang Israel yang kukenal. Dia sangat mengutuk perang, dan tak pernah membenci orang Palestina.

selengkapnya