Syifa Dan Ibramovich 7 ( tamat)

1 01 2008

“ Iya, tapi aku tak ingin terjadi apa-apa padamu Ibra. Sebenarnya aku berusaha menyelamat kau dan Alex, sayang hanya kau yang dapat kuselamatkan, karena Alex sudah ketahuan oleh Letnan Max. Dan sebelum kau juga diketahui menyelamatkan gadis itu, aku mengirimmu ke Jerussalem. Maaf Ibra, aku tak bisa menyelamatkan sahabatmu “ ujarnya dengan suara yang melemah.

“ Lalu gadis kecil itu …..?” tanyaku. Kapten Benyamin menundukkan kepalanya, dan aku tahu kalau aku tak perlu menunggu jawaban lagi.

“ Kau tahu Kapten, aku sangat menyayangi Alex, dia sahabat terbaik yang pernah kumiliki, dan gadis itu, dia begitu mirip dengan adikku dan aku juga sangat menyayaginya”

“ Ibra, maafkan aku…………”

“ Katakan padaku Pak, salahkah jika kita menyayangi orang lain, kemudian menolongnya ?, dan ajaran Tuhan mana yang menyalahkan itu ? “ tanyaku, bahkan lebih mirip sebuah bentakan dari pada pertanyaan.

“ Tak bisakah jika kita hidup berdampingan dengan damai Pak, tanpa saling membunuh dan menyakiti ?, tak bisakah kita saling menerima satu sama lain tanpa saling melukai ?, atau berapa lama lagi perang ini akan kita pertahankan, Pak ? perang yang tidak hanya membuat kita membunuh bangsa mereka tapi juga menyeret kita untuk membunuh saudara kita sendiri. Bahkan seorang saudara yang masih memiliki hati nurani untuk menolong orang lain ? “ kataku. Tidak, kali ini aku tak akan menangis seperti saat Shelma dan keluargaku meninggal. Kali ini aku akan tegar, bahkan aku akan benar-benar berdiri dengan tegar.

“ Ibra, semua itu hanya omong kosong yang tak mungkin terjadi “ jawabnya

“ Anda benar, Pak, semua itu hanya omong kosong. Cita-cita yang suci apabila telah terbakar oleh api keegoisan dan keserakahan hanya akan menjadi omong kosong “ jawabku

“ Terima kasih telah menyelamatkanku, Pak, tapi aku akan jauh lebih berterima kasih kalau anda waktu itu membiarkanku mati bersama Alex, dan Syiffa, setidaknya kami bertiga bisa mati dalam mimpi yang indah, permisi !!! “ ujarku seraya meninggalkannya. Kapten Benyamin menatap kepergianku dan masih sempat kudengar dia memanggil namaku, sayang aku terlalu lelah untuk menoleh kearahnya. Aku berjalan menuju tenda, hari ini akan menjadi hari terakhirku berada didalam barak ini, tempat yang paling kental dengan aroma kebencian. Tempat dimana kebencian tak bisa membendung perasaan kasih sayang antara sesama insan Tuhan, meski berbeda dalam segala hal. Tak ada lagi yang pantas untuk diperjuangkan disini, dan aku merasa tak pantas untuk memperjuangkan keegoisan, keserakahan atau kepentingan lain dengan mengalirkan darah orang-orang yang tak bersalah. Sinar senja memanggil matahari yang lelah untuk kembali keperaduannya, menemani langkahku mendaki bukit untuk meninggalkan tempat itu. Alex dan Syiffa yang tak pernah kuketahui dimana makamnya, bahkan mungkin tak yang pernah dimakamkan telah mengajari aku akan beratnya sebuah perjuangan sesungguhnya. Sebuah perjuangan tentang kasih sayang ditengah-tengah kebencian dan keserakahan yang mengatasnamakan patriotisme dan Tuhan. Kini aku kembali berjalan sendiri diatas mimpi-mimpi indah tentang sebuah kedamaian dan kasih sayang, yang hanya dikatakan omong kosong. Terus berjalan untuk berusaha menjawab pertanyaan Shelma, Syiffa dan diriku sendiri, ‘ Tak bisakah kita hidup berdampingan dengan damai ?’………………

thanks buat yanti yang telah membuat cerita ini.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: