Syifa Dan Ibramovich 7 ( tamat)

1 01 2008

“ Iya, tapi aku tak ingin terjadi apa-apa padamu Ibra. Sebenarnya aku berusaha menyelamat kau dan Alex, sayang hanya kau yang dapat kuselamatkan, karena Alex sudah ketahuan oleh Letnan Max. Dan sebelum kau juga diketahui menyelamatkan gadis itu, aku mengirimmu ke Jerussalem. Maaf Ibra, aku tak bisa menyelamatkan sahabatmu “ ujarnya dengan suara yang melemah.

“ Lalu gadis kecil itu …..?” tanyaku. Kapten Benyamin menundukkan kepalanya, dan aku tahu kalau aku tak perlu menunggu jawaban lagi.

Selengkapnya

Advertisements




Syifa Dan Ibramovich 6

29 12 2007

“ Kau tidak percaya padaku Alex ?”
“ Kawan bukannya aku tak percaya pada semua yang kau katakan, tapi sulit rasanya, karena disini tidak ada pemukiman penduduk, Ibra “ ujarnya beralasan
“ Siapa bilang tidak ada ? Kau ingat pemukiman penduduk Palestina ‘kan ?”
“ Ya Tuhan… Ibra, apa maksudmu ? Apa kau mau bilang kalau gadis yang mirip dengan adikmu itui adalah gadis Palestina dipemukiman yang kita serang ? Aku mohon Ibra jangan katakan itu “ ujarnya dengan wajah yang tegang.
“ Iya, Alex, kau benar “
“ Ya Tuhan……… “
“ ‘ Kan sudah kukatakan bahwa kau takkan suka mendengar ini “ jawabku cuek
“ Tapi kumohon Alex, jangan katakana pada siapapun “lanjutku
“ Hhhmmmm……Baiklah, ini akan jadi rahasia kita berdua, sekarang kita istirahat saja ‘ katanya
“ Tidak bisa, aku harus menolongnya, dia terluka dan kalau tidak cepat ditolong dia akan meninggal “ ucapku sambil meraih kotak obat yang dari tadi kusembunyikan
“ Hei, yang benar saja Ibra, kau akan pergi menolong gadis Palestina itu ? Kau tahu apa yang akan terjadi kalau sampai yang lain tahu akan perbuatanmu itu ‘kan ? “
“ Aku tak punya pilihan lain, kau tahu ‘kan betapa hancurnya aku saat tak bisa menyelamatkan adikku, dan aku tak ingin merasakan perasaan yang sama kali ini. Alex, saat aku menatap wajahnya, aku yakin kalau dia sangat berharga sama seperti Shelma, meski aku sadar mereka adalah dua orang yang berbeda. karena itu akan ada orang lain yang terluka sepertiku jika dia tak cepat diselamatkan. Dia benar-benar membuatku seperti melihat Shelma, dia……………. “ jawabku

selengkapnya





Syifa Dan Ibramovich 5

19 12 2007

“ Komandan……………. “ sapa seorang prajurit. Aku tersenyum ke arahnya

“ Ada yang dapat saya lakukan untuk anda ?” lanjutnya kemudian

“ Tidak, teruskan saja tugasmu, aku hanya ingin melihat-lihat “

“ Siap Komandan “ dia berlalu dan kembali melanjutkan tugasnya. Setelah lama berjalan tanpa tujuan, kakiku terasa sangat lelah. Sudah begitu jauh aku meninggalkan pos penjagaan lagipula matahari sudah hampir menenggelamkan dirinya di ufuk barat cakrawala. Aku menyandarkan tubuhku disebatang pohon. melunjurkan kaki dan menengadahkan kepala menatap lagit yang terlihat makin menjingga. Kunikmati suasana senja yang telah lama keindahannya kulupakan. Setelah puas menikmati udara yang meskipun masih berbau amis keegoisan, aku memutuskan untuk pulang, namun baru beberapa langkah aku meninggalkan tempat itu, aku tersentak dengan suara rintihan yang amat pelan. Aku melihat sekelilingku berusaha mencari sumber suara yang kudengar. Aku berbalik dan berjalan maju, suara itu terdengar semakin dekat dan…Ya Tuhan….seorang gadis kecil !!!!

Aku kembali melihat sekelilingku, kalau-kalau ada tentara yang melintas, namun sepertinya sinar sang surya memang berencana untuk menyelamatkan nyawa anak ini. Sesaat aku sempat kebingungan tentang apa yang harus kulakukan, rasanya bukan keputusan tepat jika harus membawanya pulang ke tenda, karena aku yakin dia bukan anak dari bangsaku, dengan kata lain, besar kemungkinan dia adalah korban dari serangan mendadak itu. Setelah lama berpikir, aku memutuskan untuk membawanya ke tempat latihan prajurit yang telah lama tak digunakan. Kugendong gadis kecil yang tak sadarkan diri itu dengan hati-hati sekali. Kenudian kubaringkan didalam pondok yang biasa dijadikan tempat beristirahat para prajurit. Kuraih senter kecil dari kantong sweaterku, dan kuarahkan kewajahnya yang terbaring lemas. Oh……. Tuhan… Wajah ini !!!!

…………….Shelma !!!!!!!!! selengkapnya





ini milikmu Mama

17 12 2007

“Rosa, bangun.. Sarapanmu udah mama siapin di meja.” Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat tapi kebiasaan mama tak pernah berubah. “Mama sayang. ga usah repot-repot ma, aku sudah dewasa.” pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah.. Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

selengkapnya





Burung Gagak

17 12 2007

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda itu?” “Burung gagak”, jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi
mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak ayah!” Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.

selengkapnya





CinTa 100 HAri

17 12 2007

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: “Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku.”

Peter: “kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang.” (keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: “Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?”

Peter: “Eh? permainan apaan?”

selengkapnya





Syifa Dan Ibramovich 4

17 12 2007

“ ….melakukan bom bunuh diri di Jerussalem, tepat beberapa meter dari rumahmu. Seluruh kelurgamu meninggal ditempat, kecuali Shelma. Dia sempat dibawa kerumah sakit, namun meninggal diperjalanan….”

“ Tuhan……”

Saat itu aku tak dapat mendengar lanjutan kata-kata yang diucapkan oleh Kapten Benyamin Tak ada lagi air mata yang dapat kubendung, tubuhku serasa lunglai. Entahlah tak ada yang dapat kugambarkan dengan kata-kata, hanya hatiku yang dalam sekejap serasa terbang bersama ucapan Kapten Benyamin. Bayangan wajah Shelma yang lembut kembali berkelebatan bersama kenangan-kenangan terindah kami. Tuhan………………………..

selengkapnya